Analisis Proses Pembuatan Shaft Pulley Dryer pada Departemen Machining PT Adiprima Suraprinta
Kegiatan magang industri merupakan bentuk pembelajaran berbasis pengalaman yang penting bagi mahasiswa teknik mesin untuk memahami penerapan teori di lingkungan kerja nyata. Melalui magang, mahasiswa memperoleh gambaran langsung mengenai proses produksi, penggunaan mesin perkakas, serta standar kerja yang diterapkan di industri manufaktur. Artikel ini membahas proses pembuatan shaft pulley dryer yang dilaksanakan di Departemen Machining PT Adiprima Suraprinta sebagai bagian dari kegiatan magang.
PT Adiprima Suraprinta merupakan perusahaan manufaktur kertas berbasis bahan baku daur ulang yang memiliki fasilitas workshop mekanik untuk mendukung operasional pabrik. Workshop Departemen Mekanik berperan dalam pembuatan, perbaikan, dan modifikasi komponen mesin, salah satunya shaft pulley dryer yang berfungsi sebagai elemen transmisi daya pada sistem pengering. Komponen ini menuntut tingkat presisi tinggi agar dapat bekerja secara optimal dan memiliki keandalan yang baik.
Proses pembuatan shaft pulley dryer diawali dengan pemahaman gambar kerja sebagai acuan utama dalam menentukan ukuran, toleransi, dan bentuk komponen. Material yang digunakan berupa baja karbon S45C yang terlebih dahulu diperiksa kondisi fisik serta dimensi awalnya sebelum dilakukan proses pemesinan. Material kemudian dipotong menggunakan mesin hack saw untuk memperoleh panjang mendekati ukuran akhir guna memudahkan proses lanjutan.

Gambar 2. Hasil Shaft Pulley Dryer
Pembentukan profil utama shaft dilakukan melalui proses pembubutan pada mesin bubut konvensional. Proses ini bertujuan menghasilkan diameter, bahu, dan chamfer sesuai dengan spesifikasi desain. Setelah itu, dilakukan pengeboran untuk pembuatan lubang grease serta proses milling untuk membentuk slot keyway yang berfungsi sebagai pengunci antara shaft dan pulley. Seluruh proses dikerjakan dengan memperhatikan parameter pemotongan agar diperoleh hasil yang presisi.
Tahap akhir meliputi finishing dan pemeriksaan hasil machining. Finishing dilakukan untuk menghaluskan permukaan dan menghilangkan sisa burr, sedangkan pemeriksaan dimensi dilakukan menggunakan alat ukur presisi guna memastikan seluruh ukuran berada dalam batas toleransi yang ditetapkan. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa shaft pulley dryer yang dihasilkan memiliki penyimpangan dimensi yang kecil dan nilai run-out yang masih memenuhi standar.
Secara keseluruhan, proses machining yang diterapkan di Departemen Machining PT Adiprima Suraprinta telah berjalan secara sistematis dan terkontrol. Kegiatan magang ini memberikan pengalaman praktis yang berharga bagi mahasiswa dalam memahami proses manufaktur secara langsung serta menumbuhkan pemahaman mengenai pentingnya ketelitian, kualitas, dan standar kerja dalam dunia industry.
Penulis:
Rico Arya Saputra NIM: 23050754251
Program Studi S1 Teknik Mesin
Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya